MENANTI KESEMUAN (Short Story)

Aku berjalan menyusuri jalan setapak ini hingga setengah jam berlalu tanpa kusadari. Air mata ini terus saja melunjur tanpa bisa aku hentikan. mereka laksana berteriak padaku. Mengingatkanku akan hal bodoh yang telah aku lalui. Aku, seorang Arini Syilani menangisi seorang Albert Saputra yang telah memiliki seorang wanita yang sangat dia cintai. Namun apa yang bisa aku lakukan?. Segala upyaku tak mampu meruntuhkan benteng cintanya pada Aprilia Wijaya, kekasih hatinya itu. Namun, sungguh, aku tak bisa menutupi kesedihanku saat melihatnya menangis seperti itu. Hari ini Aprilia meninggal setelah koma selama 3 hari dirumah sakit. Dan Albert, tak henti - hentinya meraungi kepergian April. Aku ingin mati saja melihat kesedihannya itu.
*****
"Albert..." Aku mendudukkan diriku disamping Albert yang sejak tadi melamun di tempat duduknya dengan mata sembab. Dia acuh - tak acuh padaku.
"Gue turut berduka cita ya!"
Albert menatapku tajam. Aku sangat takut melihat ekspresinya itu. Aku dapat merasakan kebencian dari pandangannya kepadaku.
" Gak usah munafik lo!" Dia memalingkan pandangannya lurus kedepan.
"Maksud lo?" Aku bingung
"Bukannya lo seneng ya, kalo April udah nggak ada?"
"Lo kok ngomongnya kaya gitu sich Al?. Apa lo pikir gue sejahat itu?" Aku menatap Albert dengan wajah sedih. Aku tak menyangka dia bisa berfikir seburuk itu padaku.
"Gue salah?. Sorry dech!. Gue pikir lo seneng dengan kematian April. Jadi, cita - cita lo buat jadi pacar gue bisa terkabul kan?" Dia berbicara dengan wajah tanpa dosa. Tak sadarkah dia bahwa kata - katanya itu sangat mengoyak hatiku?
"Tapi maaf, gue nggak akan pernah bisa nerima cinta dari orang kaya lo!" Albert pergi setelah menyelesaikan kata - katanya itu. Aku hanya bisa menatap sosoknya yang telah hilang dibalik pintu itu dengan air mata yang tak bisa kutahan lagi.
*****
"Kok Albert tega sich Rin, ngomong kaya gitu sama lo?" Tita berkomentar setelah kuceritakan semua hal yang terjadi tadi siang disekolah tanpa terkecuali.
"Setelah semua kejadian ini, gue baru sadar kalau gue udah jahat banget sama April, Ta!" Aku merasa bersalah.
"Jhat?, jahat kenapa?. Perasaan selama ini lo nggak pernah ada salah ama April?" Tita menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Gue udah nyakitin perasaan April, Ta!. Gue selama ini terus aja ngedekatin Albert, sementara gue tahu kalau Albert udah pacaran sama April. Dan April, nggak pernah marah sama gue dengan kelakuan gue itu!. Sumpah Ta, gue malu banget sama April sekarang!" Aku menangis.
"Udah Rin, nggak usah nangis. Gue yakin, April pasti udah maafin lo!" Tita memelukku.
*****
Aku berjalan menuju pria yang sedang berdiri di depan rumahnya, Albert, ya...pria itu adalah Albert. Aku sudah meminta izin padanya untuk datang kerumahnya hari ini.
"Ngapain lo nelfon buat datang ke rumah gue?. Kita nggak punya urusan!" Albert membentakku kasar.
"Gue sekarang sadar kalau gue udah nyakitin perasaan April selama ini. Gue minta maaf. Sebelum kesini, gue juga udah datang ke makam April kok. Dan gue juga udah minta maaf sama dia!" Aku menunduk.
"Maaf lo terlambat. Lebih baik sekarang lo pergi dari sini! " Albert bersiap untuk pergi.
"Al, gue tahu gue salah. Tapi, kenapa lo harus sebenci ini sich sama gue?. Gue nggak ada andil kan atas kematian April?. Itu semua takdir Tuhan Al!" Aku berteriak kesal padanya.
"Iya, gue tahu!" Albert menunduk. Dia lalu mengangkat mukanya dan berteriak padaku "Iya, tapi gue nggak tahu lagi apa yang harus gue lakuin buat bikin April balik lagi disini sama gue!" Albert pergi, berlari menuju rumahnya.
*****
Aku berjalan memasuki kelas. Namun aku merasa aneh dengan keadan ini. Ada anak yang menangis, bergerombol sambil berbisik - bisik, namun ada juga yang acuh tak acuh. Aku segera menghampiri Tita yang sedari tadi menatap sayu padaku. Aku segera duduk disampingnya.
"Anak - anak kenapa sich Ta?. Aneh banget dech!" Aku bertanya tak sabar.
tita diam. Dia lalu berkata lirih padaku. "Albert meninggal Rin!. Dia bunuh diri dirumahnya kemarin sore!"
Aku kaget. Dan tiba _ tiba aku merasakan semuanya terlihat gelap.

Komentar