Sang Pelangi (Short Story)
Hanya mendung yang menggelayut, teman sejati gadis itu saat ini. Bulir – bulir bening yang senantiasa terjun dari angkasa tak mampu membasahi jiwa rapuhnya untuk sekedar berteduh., melindungi raganya yang telah sempurna basahnya untuk berlindung dari amuk petir. Gadis itu terus saja berdiri, mematung ditengah taman itu. Bersatu dengan kelam nuansa yang tercipta dari hujan hari ini. Kelam yang penuh dengan aura hitam, sebuah aura yang menggambarkan kisah luka inipun tak mampu menandingi kelam jiwa yang meliputinya. Mendung dari rasa sakit yang senantiasa memayungi setiap langkahnya, menyempurnakan rapuh dari relung – relung hatinya. Tuhan…. betapa menyedihkannya gadis itu. Gadis itu, Naya, terus saja mencampurkan bola – bola bening yang merembes dari dua mata beningnya untuk menyatu bersama tetes – tets air langit. Ya, ini adalah aktivitas rutin yang selalu dijalaninya. Selalu berlari keluar dari rumahnya kala hujan tiba. Petir dan angin selalu ...