Sepucuk Surat Untuknya
Wajahnya, ia, entah sejak kapan dan mengapa. Ia, menjadi tokoh utama, menghiasi setiap mimpi dalam malamku. Ini benar-benar cinta? Aku mabuk cinta? Karena dia.. Segala yang ada padanya memang membuatku memuja. Tak sanggup berhenti. Ia malaikat tak bersayap yang membuatku jatuh cinta. Mungkin, karena itulah aku tak mau berhenti memujanya. Hingga keindahannya, selalu terselip dalam mimpiku. Bahkan segala yang ada padanya tak bercela. Ia terlihat indah. Dia, begitu memukauku. Keindahan macam apa ia? Kenapa begitu menjeratku? Bahkan, ia tak perlu memiliki keajaiban untuk membuatku terpesona. Tanpa keajaiban pun, ia sudah terasa begitu ajaib untukku. Ia, adalah sebongkah keajaiban. Indah dan menawan. Kau tak perlu menjadi Pelangi, tak perlu menjadi Matahari, tak perlu menjadi Pangeran, dan semua sosok impian yang ada pada khayalku. Kau cukup menjadi dirimu. Dan aku akan terus berada di sini untuk mengagumimu. Mencintaimu. Aku mencintaimu karena kamu adalah kamu. Menyusup di antara celah-...