Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Dan Akhirnya...

Cinta tumbuh dari kebiasaan yang rutin dan biasa.             Jadi, bagaimana kalau akhirnya aku mencintaimu? Mencintaimu karena terlalu terbiasa melihatmu, menghirup aroma tubuhmu, mendengarkan suaramu, hingga bahkan aku menjadi hafal akan segala sesuatu tentangmu. Hidup adalah seni dalam memilih.             Dan bagaimana jika hatiku mengetuk palunya untuk memantenkan sebuah nama. Ia hanya akan menjaga segala penjuru ruang hingga sela terkecil yang ia punya. Mengisinya hanya dengan satu nama. Namamu. Cinta yang akhirnya membuat hidupmu tak lagi sama.             Kini, banyak hal yang tak lagi sama. Hatiku tak lagi sama. Namamu memenuhi semua bilik jiwa dan mengisinya dengan cinta. Sungguh baik takdir memertemukan kita. Aku ingin terus begini, menggenggam setiap sela jemarimu dan kamu selalu duduk di sampingku. Dan ak...

Kesia-siaan

Kau tahu? sekarang aku sedang memikirkanmu Ah, aku merindukanmu Ayo lah, tertawa… Aku ingin mendengar suaramu Ayo lah, tersenyum… Aku ingin semakin tenggelam dalam cintamu Ayo lah, bernyanyi… Aku ingin mendengar kau menyanyikan lagu cinta untukku Aku sungguh ingin memelukmu Jika begitu, aku tak akan mau melepaskanmu Aku sungguh ingin memelukmu Aku ingin kau terus disini Kau benar-benar membuatku gila karena rindu Aku sungguh ingin memelukmu Aku ingin kau menenangkan aku dalam rengkuhanmu Aku sungguh ingin kau berada di sini Kau benar-benar membuatku gila karena mencintaimu Kenapa kau harus membuatku jatuh cinta jika akhirnya begini? Bukankah sebuah kesia-siaan? Jatuh cinta, tapi tak akan pernah bisa bersama…. Sungguh, aku ingin melupakanmu saja…. Mencintaimu memang kesia-siaan. Aku tahu aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita. Mencintaimu sama saja menyakiti hatiku sendiri. Kau benar-benar harus mengajariku bagaimana caranya berhenti. Malang, 27 Oktober 2011

Sudut Sepi

Bila cinta dapat bersuara, mungkin ia tak akan berhenti mengucap Bila rasa dapat berlari, mungkin ia akan melangkah ke arahmu dan tak kembali Bila aku dapat memenangkan diri dari keegoisan hal yang bernama rasa, mungkin kini aku tak akan berdiri mematung laksana tak bernyawa Aku hanya mampu begini Aku hanya mampu seperti ini Aku disini, di sudut yang tak pernah kentara olehmu Aku selalu melihatmu Di manapun aku, aku hanya mampu melihatmu Di sudut yang kelabu Dalam seluk rasa yang tak terbaca mata Aku disini Dalam rengkuh rindu dan buai asa akan kau yang terus di sana Aku disini Dalam sendu nyanyian rasa yang terjaga Aku disni Di sudut sepi Menjaga sesuatu yang tak ada Malang, 18 Oktober 2011

Hey, Kau!

Hey, kau! Enyahlah dari sana, kumohon.. Tak kelukah kau bertengger dalam dahan-dahan sendu? Ya, kau adalah sendu yang memayungi kalbu Kau selalu meneteskan embun rindu pada pucuk-pucuk relungku Tempat aku menyimpan jutaan ukir senyum yang terpahat pada memori Memori yang kini terhenti pada detik kisah Ah, tidak! Aku ingin memori itu tertulis lagi Lebih lamalah disana Nyamankan dirimu di sana Di hatiku… Tempatku menuaikan cinta menjadi tunas rasa yang tak kan goyah di makan masa Di sanalah saja Nyamankan saja Aku akan terus mencinta Rasa akan terus ada hingga ia sirna saat kau kehilangan rasa Hey, kau! Izinkan aku mengucap satu kalimat saja Aku ingin kau mengerti rasanya Aku ingin kau tahu bagaimana rasa itu menyiksa Satu kalimat saja Ya, cukup satu saja Aku merindukanmu….. Malang, 29 September 2011

Rumahku, Hatimu...

Rumahku, hatimu…. Pasti. Tak ada yang berubah sejak pertama kali senyummu menggelitik ruang kalbuku. Menyusup malu-malu. Menggeret hatiku untuk tinggal di hatimu. Ya, hatiku belum mau pergi dari sana hingga kini. Kenapa tak kau usir saja? Namun aku yakin, hatimu adalah tempat cintaku tinggal. Apa kau percaya jika kukatakan ia tak akan ingin berpulang? Meskipun kau mematahkan hatimu sekalipun agar ia kehilangan tempat untuk tinggal. Meskipun kau terus mengulang meminta padanya untuk mencari hati yang baru. Membeku aku berdiri memeluk hening. Sepi aku disini tanpa senyummu yang menghangatkan. Senyum sederhana dengan pesona yang tak henti melekat. Senyum dengan gravitasi yang mampu menyeret hatiku untuk mendekat. Seinci pun aku tak mau pergi. Ingin terus disini untuk menghirup aroma cinta yang terus tercium dari bilik – bilik rasa yang aku punya. Untukmu. Kau dengan bayang samar. Kau yang bahkan akan terus bersinar di balik remang malam. Kau dengan b...