Dan Akhirnya...

Cinta tumbuh dari kebiasaan yang rutin dan biasa.

            Jadi, bagaimana kalau akhirnya aku mencintaimu? Mencintaimu karena terlalu terbiasa melihatmu, menghirup aroma tubuhmu, mendengarkan suaramu, hingga bahkan aku menjadi hafal akan segala sesuatu tentangmu.

Hidup adalah seni dalam memilih.

            Dan bagaimana jika hatiku mengetuk palunya untuk memantenkan sebuah nama. Ia hanya akan menjaga segala penjuru ruang hingga sela terkecil yang ia punya. Mengisinya hanya dengan satu nama. Namamu.

Cinta yang akhirnya membuat hidupmu tak lagi sama.

            Kini, banyak hal yang tak lagi sama. Hatiku tak lagi sama. Namamu memenuhi semua bilik jiwa dan mengisinya dengan cinta. Sungguh baik takdir memertemukan kita. Aku ingin terus begini, menggenggam setiap sela jemarimu dan kamu selalu duduk di sampingku.

Dan akhirnya….

            Dan akhirnya, senyummu menjadi bagian dari hidupku. Dan akhirnya, gelak tawamu penyembuh segala laraku. Dan akhirnya, rengkuhanmu menjadi tempat paling nyaman untukku mengurai tangis. Dan akhirnya… aku berharap kau menjadi kisah akhir dari dongengku. Kau Pangeran, dan aku Puteri. Aku dan kamu memang tertakdir menjadi kita.

Aku sungguh mencintaimu….



Malang, 28 Oktober 2011

Komentar