Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Terpatri

Disana tertindih ribuan lembar suram Menatapnya dengan lirih, miris, tak terbaca oleh hayal Tertutupi akan raga, nyawa tak berdaya Meresapinya dengan diam, memuai asa Ingin itu ada kala masa lalu belum menjumpa, belum merasa Asa datang kembali, membayang jalan, harap kini menjadi nyata Mengucap, kala buram itu menjernih, memutih tanpa bercak hitam Mengungkap dari hati, 3 kata ajaib, tiga kata penantian Hati menari, bernyanyi, bagai mimpi Hati ingin merengkuh hati Raga ingin menggenggam jemari raga, dekat namun tersekat Karena raga mungkin masih sendiri, namun hati telah terpatri Raga masih sendiri, namun nyawa telah mencinta meski abu – abu yang terwarna, keruh dan tak pasti untuk diurai cerita pada raga yang kini mengungkap padaku Hati telah terpatri hati lain, bukan hati yang kini kembali menebar asa Hati sulit menjelaskan tentang kesendirian yang terikat Terikat namun sendiri Sendiri namun terikat Asa itu mendekat dan kian mendekat Namun bagima...

Bukan cerpen, hanya sebuah ungkapan hati

            Aku berjalan pelan menuju pria yang tengah duduk di bangku coklat itu. Ia tersenyum samar kearahku yang masih berjalan beberapa meter darinya.             Ruang kelas yang senyap serasa mampu memperjelas degup jantungku yang kian berdetak tak normal. Ia, masih dengan senyum kecilnya, duduk dibangku deretan depan dari kiri. Menyisakan satu bangku kosong lagi disampingnya.             Kini, aku telah berada tepat disamping mejanya. Kududukan diriku disampingnya, pada bangku bercat cokelat kosong yang tersisa. Aku memandang kosong kedepan. Mengamati whiteboard yang menggantung didepan kelas yang biasanya kuacuhkan. Whiteboard itu serasa bertuliskan jutaan rumus yang ditulis dengan ukuran kecil, memaksaku untuk berusaha membacanya. Semakin menyuramkan otakku untuk berhenti bekerja. ...

Bahagia adalah....

Bahagia adalah saat aku melihat kau tertawa bahagia. Tersenyum lucu dengan cengiran khasmu. Bahagia adalah saat kau menjadi pangeran dan aku menjadi putri. Lalu, kita hidup bahagia di dalam Istana.  Bahagia adalah saat kau bercerita tentang segala hal yang kau suka. Bahagia adalah jika suatu saat ‘aku’ dan ‘kamu’ bisa berubah menjadi ‘kita’ Bahagia adalah saat kita bisa melihat pelangi bersama. Berpayung dibawah hujan, berdua. Bahagia adalah saat kita bisa dekat lagi. Seperti saat pertama bertemu dulu. Bahagia adalah bila suatu saat kamu menyanyikan lagu Favorite Girl-nya Justin Bieber khusus untukku. Tepat dihari ulang tahunku. Bahagia adalah saat aku merindukanmu, kamu juga sedang merindukan aku. Bahagia adalah segala hal tentang dirimu. Karena ternyata, kamulah sumber kebahagiaanku. Bahagia adalah jika suatu saat kita dapat bertemu dan aku dpaat merengkuhmu. Berada dalam pelukmu. Bahagia adalah saat kita dapat bercerita, saling berbagi ...

Aku Ingin Memelukmu

Aku ingin memelukmu Mengalahkan rengkuhan jarak yang berteriak dengan lantangnya ‘Tidak mungkin” padaku Aku ingin memelukmu Membisikan padamu betapa aku mencintaimu Aku ingin memelukmu Mendekapmu, memuaskan dahaga pada keingintahuanku bagaimana aroma tubuhmu Aku ingin memelukmu, memelukmu dan tak akan melepasnya, tak ingin, tak rela Aku ingin memelukmu, mendongakkan kepalaku dalam rengkuhanmu Mematri setiap inci dari lekuk wajahmu, menyimpannya dalam memori otakku Aku ingin memelukmu, menghentikan waktu yang akan mengganggu Memelukmu dalam lelahmu Memelukmu dalam tangis haru Memelukmu dalam himpitan sesak akan lukamu Memelukmu dibawah rinai air yang menyimpan bulir rinduku tanpa hadirmu Memelukmu dibawah terik yang menyesap habis rinduku Memelukmu… Aku sungguh ingin memelukmu detik ini, tak ingin menunggu Aku ingin memelukmu setiap rindu itu menyesakkan dadaku Aku ingin memelukmu kala senyummu melayang – layang diretina mataku Aku ingin memelukmu...

Aku, Kamu dan Hujan Siang itu (Short Story)

Cintaku padamu… Lebih dari bulan mencintai bintang Langit mencintai awan Mentari mencintai senja Pelangi mencintai hujan Cintaku padamu memang sederhana Layaknya sebatang pohon Selalu kokoh… tegak… Terus disatu tempat Terus disini Mencintaimu… Takkan pergi… Karena cinta ini, takkan pernah mati Langit kelabu menutupi warna biru putih yang sejak tadi menaungi. Lirih – lirih suara gemuruh mulai mengganti sunyi yang sedari tadi meliputi nuansa hari ini. Suara kicauan burung mulai sirna berganti petir yang kini mulai terdengar jelas. Suasana mulai kelabu, butir bening turun dengan tak satu – satu. Turun dengan derasnya, berjejal tak mau menungguku yang dengan kesal menatap hujan diluar itu. “Kenapa sih Ri?” Dea, teman sebangkuku menyenggol lengan yang aku tumpukan untuk menyangga kepalaku sejak tadi. Segera kualihkan pandanganku yang sedari tadi memandang kesal pada rintik bening diluar kelasku. “Nggak kenapa – kenapa” Jawabku datar dan  kembali berkutat ...