Terpatri


Disana tertindih ribuan lembar suram
Menatapnya dengan lirih, miris, tak terbaca oleh hayal
Tertutupi akan raga, nyawa tak berdaya
Meresapinya dengan diam, memuai asa
Ingin itu ada kala masa lalu belum menjumpa, belum merasa
Asa datang kembali, membayang jalan, harap kini menjadi nyata
Mengucap, kala buram itu menjernih, memutih tanpa bercak hitam
Mengungkap dari hati, 3 kata ajaib, tiga kata penantian
Hati menari, bernyanyi, bagai mimpi
Hati ingin merengkuh hati
Raga ingin menggenggam jemari raga, dekat namun tersekat
Karena raga mungkin masih sendiri, namun hati telah terpatri
Raga masih sendiri, namun nyawa telah mencinta meski abu – abu yang terwarna, keruh dan tak pasti untuk diurai cerita pada raga yang kini mengungkap padaku
Hati telah terpatri hati lain, bukan hati yang kini kembali menebar asa
Hati sulit menjelaskan tentang kesendirian yang terikat
Terikat namun sendiri
Sendiri namun terikat
Asa itu mendekat dan kian mendekat
Namun bagimana bisa teraih jika tak ingin?
Haruskah merengkuh karena melelah untuk menjerihkan sang abu – abu?
Atau membiarkan abu – abu tetaplah abu – abu?
Menjarak dari asa dan tetap begini, terpatri namun sendiri

1 Mei 2011, 14 : 21

Komentar