Aku, Kamu dan Hujan Siang itu (Short Story)
Cintaku padamu…
Lebih dari bulan mencintai bintang
Langit mencintai awan
Mentari mencintai senja
Pelangi mencintai hujan
Cintaku padamu memang sederhana
Layaknya sebatang pohon
Selalu kokoh… tegak…
Terus disatu tempat
Terus disini
Mencintaimu…
Takkan pergi…
Karena cinta ini, takkan pernah mati
Langit kelabu menutupi warna biru putih yang sejak tadi menaungi. Lirih – lirih suara gemuruh mulai mengganti sunyi yang sedari tadi meliputi nuansa hari ini. Suara kicauan burung mulai sirna berganti petir yang kini mulai terdengar jelas. Suasana mulai kelabu, butir bening turun dengan tak satu – satu. Turun dengan derasnya, berjejal tak mau menungguku yang dengan kesal menatap hujan diluar itu.
“Kenapa sih Ri?” Dea, teman sebangkuku menyenggol lengan yang aku tumpukan untuk menyangga kepalaku sejak tadi. Segera kualihkan pandanganku yang sedari tadi memandang kesal pada rintik bening diluar kelasku.
“Nggak kenapa – kenapa” Jawabku datar dan kembali berkutat pada buku tulisku, kembali fokus pada ‘pidato’ Pak Rahmat, guru Fisikaku yang sejak tadi masih asik dengan ‘coretan’ di papan tulisnya.
“Bohong! Ngelamunin dia ya? Uhuk..uhuk.. ngaku aja deh” Dea menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jahil kearahku. Dahiku berkerut samar seraya memandangnya kesal.
“Apaan sih. Udah deh, nggak usah mulai. Ntar Pak Rahmat ngamuk lho..” Aku kembali menghadapkan tubuhku kedepan dan mulai mencatat penjelasan dari Pak Rahmat. Setidaknya, hingga 2 jam kedepan, aku tak ingin memusingkan bagaiman caraku pulang kerumah jika hujan ini tak mau berhenti juga.
********
Rintik masih tak mau berhenti. Mereka masih dengan acuhnya menari – menari – nari dan bernyanyi mencipta melodi sederhana, menyebarkan bau khas yang sedari tadi memenuhi rongga hidungku.
Mencoba membuang waktu, aku menyebarkan pandanganku, memperhatikan satu – satu tubuh berseragam biru – putih yang sedari tadi melintas didepanku. Aku masih saja mengetuk – ngetukkan sepatu biruku, membuang kesal yang masih tersimpan dalam hatiku. Kusandarkan tubuhku pada pintu kelas, tempat dimana sedari tadi aku berdiri menunggu hujan reda. Kuperhatikan, masih banyak siswa – siswi lainnya yang sedari tadi berjajar ditempat parkir yang berada diseberang kelasku, hanya tersekat lapangan basket yang berukuran cukup luas. Sebagian dari mereka berusaha membuang jenuh dengan mengobrol satu sama lain.
Senyummu itu…
Entah mengapa selalu sukses menghipnotisku
Mungkin karena kau begitu berarti
Atau karena kaulah bagian dari jiwaku
Semua yang ada padamu layaknya karya seni
Sebuah lukisan yang begitu indah…
Begitu mengagumkan…
Kau layaknya kanvas, meski kanvas yang tak lagi kosong
Namun aku ingin turut mewarnaimu
Menjadi coretan terakhir di dirimu
Menjadi seniman sejatimu
Sebagai pelengkap
Untuk menjadikan kau lukisan yang sempurna
“Belum pulang?” Suara seseorang mengacaukan lamunanku. Kutatap sosok yang kini berdiri didepanku, tak sengaja tatapan itu tertuju pada bola mataku. Entah, rasanya ada sesuatu yang membuatku bergetar terasa ingin pingsan. Namun, ada yang aneh. Dia terlihat kesal dan tak bersemangat.
“Belum” jawabku pendek seraya tersenyum. Kulihat dia mengehembuskan nafas kecil dan menyandarkan tubuhnya disisi pintu kelas yang lain.
“Ini alasan kenapa aku benci hujan” Aku melirik kearahnya, dia tengah memanyunkan bibirnya. Dia selalu terlihat lucu saat kesal seperti itu.
“Loh? Kenapa? Bukannya hujan itu indah? Apalagi kalau ada pelangi” Aku tersenyum samar seraya menatap rintik yang masih saja menerjunkan diri dengan derasnya.
“Indah apaan? Kamu tahu kan, kemarin pagi aja aku kehujanan sampai disekolah. Bajuku basah kuyup, pulangnya sampai sakit”
“Salah sendiri nggak mau pakai payung. Nggak punya payung ya dirumah?” Aku melirik kearahnya seraya tertawa kecil. Dia menatapku jengkel sekilas dan turut tertawa bersamaku. Tawanya, sebuah keindahan yang paling indah.
Hari ini dia terlihat manis
Ingin terus melihatnya
Meresapi detik bersamanya
Menyelami setiap simpul senyumnya
Menghirup harum tubuhnya
Teruslah dia ceria
Teruslah dia bahagia
Tawanya adalah jiwaku
Maka teruslah ia tertawa
“Bukannya nggak punya. Tapi kan aku udah SMP Riri, cowok pula. Masa kesekolah naik sepeda sambil bawa – bawa payung? Nggak keren!” Dia menatapku sebal dan maju beberapa langkah. Diangkatnya tangan sebelah kirinya, menaruhnya dibawah rintik hujan. Kulihat dia menggerutu samar dengan wajah kesal. Dia berbalik dan berkata kepadaku.“Aku pulang duluan deh. Nunggu hujan lama. Mau ikut bareng nggak nih?”
“Serius? Nggak deh. Aku nunggu hujannnya berhenti aja” Aku tersenyum kecil kearahnya. Dia hanya mengangguk dua kali dan berlari menembus hujan, berlari kencang menuju tempat parkir sepeda yang berada diseberang kelasku.
Ragamu tak terjangkau
Tak tergapai oleh harapku
Meski kau.. ragamu disampingku…
Tanganku takkan mampu meraihmu
Takkan sanggup menyentuh indahmu
Takkan pernah…
Ingin aku menyentuhmu
Mendekapmu dalam sedihmu
Merengkuhmu dalam bahagiamu
Setia dalam masamu
Menghapus cemas dan sedihmu
Meski kau tak ingin akan hadirku
Tapi aku tak bisa…
Takkan pernah mampu..
Takkan pernah bisa meraihmu
Selalu begitu. Dia selalu memanyunkan bibirnya kesal bila hujan tiba. Hujan yang baginya selalu terasa menyebalkan, membuat harinya terasa buruk dan kelabu. Aku masih tersenyum melihat dia yang dengan susah payah mengeluarkan sepeda Polygon hijaunya dari barisan belakang. Namun, tiba – tiba ada yang terasa menyesakkanku. Kulihat, dia tengah menghampiri sosok gadis lain sambil menuntun sepedanya. Seorang gadis berambut sebahu berkulit putih yang tengah berteduh ditempat parkir sepeda, beberapa centi dari tempat ia memarkirkan sepedanya tadi. Ya, gadis itu adalah Raya, teman sekelasnya. Seseorang yang akhir – akhir ini digosipkan tengah menjalin kedekatan dengannya.
Aku menggigit bagian bawah bibirku, berusaha menahan pilu yang merasuk dan mendenyutkan rasa luka pada jantungku. Kulihat, mereka tengah tertawa, sesekali saling memukul bahu satu sama lainnya. Dan akhirnya, mereka berboncengan sepeda bersama, tertawa dibawah hujan. Ia, pria itu, tertawa ceria dengan gadis lain dibawah rintik bening yang mulai berubah menjadi gerimis. Romatis bukan?
Aku mencintaimu
Lebih dari yang kan kau tahu
Berbunga rindu padamu
Entah sampai kapan kan begitu
Rasa ini selalu terjaga untukmu
Tetap sama dihatiku
Malamku selalu berhias mimpi tentangmu
Ulasan senyummu selalu datang padaku
Hanya bayangmu yang terkenang
Angan harapan yang menentramkan
Melepasmu…
Merelakanmu…
Akan rela kulakukan itu
Demi tawamu, meski tangis bagiku
Walau cinta ini semu
Indahmu tetap nyata untukku
Sebuah anugerah dalam kelamku
Angan harapan bagi hidupku
Namun kupercaya kaulah pelengkapku
Gambaran sempurna dalam jiwaku
Hujan, aku suka Ia karena terasa menenangkan. Namun, hari itu, hujan terasa begitu menyesakkan, pahit dan menyebalkan. Entah kenapa, aku tiba – tiba membenci hujan. Hujan membantu sang waktu menciptakan kisah romantis itu. Bukan antara aku dan dia, namun kisah lain yang disuguhkan dengan nyatanya dihadapanku.
Dan esoknya, aku mendengar cerita darinya bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih. Resmi menjadi kekasih. Dan itu artinya, aku harus lebih lama lagi menunggunya untuk melihatku, melihatku sebagai seseorang yang mencintainya. Menanti seseorang yang telah menjadi milik hati lainnya. Penantian yang akan terasa lebih panjang, lebih menyedihkan, dan lebih – lebih lainnya yang akan terasa memilukan.
Aku mencintaimu
Begitu pula hatiku
Tapi kau tak pernah mencintaiku
Karena hatimu tlah termiliki
Andai bisa kuputar waktu
Sekali saja..
Takkan kubiarkan cinta ini
Takkan kubiarkan rasa ini
Andai bisa kuputar waktu
Sekali saja..
Takkan kuizinkan hatiku
Yang telah terlanjur memilihmu
Dan itu semua karena hujan yang ia benci, karena hujan yang aku suka, karena hujan yang telah membantu terciptanya kisah manis diantara mereka, dan kisah pilu dalam relungku.
Kamu bilang, kamu tak suka hujan
Kamu bilang, hujan itu tak indah
Dan kini, akupun tak suka hujan, sama sepertimu…
Aku tak suka hujan bukan karena ia tak indah
Aku tak suka hujan bukan karena ia menyebalkan
Aku tak suka hujan karena ia membantu waktu untuk menjauhkanmu dariku
Aku tak suka hujan karena ia melukiskan kisah pilu itu dalam kanvas hatiku
Aku tak suka hujan karena ia membantu menggoreskan luka untukku
Aku tak suka hujan karena… kamu
THE END
Komentar
Posting Komentar