Bukan cerpen, hanya sebuah ungkapan hati
Aku berjalan pelan menuju pria yang tengah duduk di bangku coklat itu. Ia tersenyum samar kearahku yang masih berjalan beberapa meter darinya.
Ruang kelas yang senyap serasa mampu memperjelas degup jantungku yang kian berdetak tak normal. Ia, masih dengan senyum kecilnya, duduk dibangku deretan depan dari kiri. Menyisakan satu bangku kosong lagi disampingnya.
Kini, aku telah berada tepat disamping mejanya. Kududukan diriku disampingnya, pada bangku bercat cokelat kosong yang tersisa. Aku memandang kosong kedepan. Mengamati whiteboard yang menggantung didepan kelas yang biasanya kuacuhkan. Whiteboard itu serasa bertuliskan jutaan rumus yang ditulis dengan ukuran kecil, memaksaku untuk berusaha membacanya. Semakin menyuramkan otakku untuk berhenti bekerja. Ya.. sungguh. Aku bingung harus memulai darimana untuk bercakap dengannya. Mengucap satu hurufpun aku tak mampu. Gugup terasa melumpuhkan semua fungsi tubuhku.
“Kenapa diam?” Ia menoleh kearahku. Kulirik wajahnya sekilas dan kuluruskan kembali pandanganku kedepan. Aku tersenyum tipis. Ia selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun. Senyumnya masih sama. Manis dan menenangkan.
“Kenapa ngajak ketemuan disini?” Ia bertanya lagi. Dahinya berkerut tipis tanda tak paham dengan maksudku mengajaknya bertemu.
Kuputar tubuhku menghaadap kearahnya. Ia tengah menatapku bingung. Aku menundukkan kepalaku, berusaha membuang ragu yang kini melingkupiku. ‘Harus sekarang’ batinku. Kehembuskan cepat nafasku sekali. Lantas, aku menatap kedua bola mata meneduhkannya seraya tersenyum.
“Emm..” Aku mengeluarkan sepucuk surat berwarna biru muda dari dalam saku seragamku. Kuperhatikan sekilas lagi surat itu. Lantas kuangsurkan surat itu padanya.
“Ini…” Ia menerima surat itu dengan wajah bingung.
“Aku tak cukup mampu menyampaikan segalanya dalam wujud kata, mengucapkannya langsung padamu. Mungkin, deretan huruf yang telah berwujud bait – bait kalimat itu mampu mewakilkan segalanya. Sebuah wujud dari rasa. Rasaku… untukmu.” Aku tersenyum mengakhiri kalimat panjangku tadi. Setelahnya, aku mulai berdiri dan melangkah pergi dari ruang kelasnya. Aku berharap, Ia mengerti akan maksud surat itu. Sebuah perwakilan rasa yang kubingkai dengan sederhana. Puisi untuknya…
Dear you, Pelangiku…
Sunyi serasa menjadi warna
Dingin serasa penghibur sepi
Memori bercerita tentang sebuah masa
Akhir Januari yang menjadi awal paragrafnya
Kisah – kisahmu yang memanggilku kala itu
Menarikku untuk mendekat dan mengurai rasa
Aku jatuh…
Akhirnya jatuh pada ketidaktahuan
Aku jatuh…
Akhirnya jatuh pada keingintahuan kata hatiku
Aku jatuh…
Dan akhirnya aku paham rasa apa itu
Aku jatuh…
Padamu
Aku jatuh… cinta
Rasa itu dalam dan terus mengakar
Rasa itu ada untukmu sejak masa itu
Dan rasa itu masih sama
Masih untukmu…
With heart,
Seseorang yang mengagumi dan akhirnya sungguh mencintaimu
THE END
Komentar
Posting Komentar