Jalan Menemukanmu


            If something’s meant to happen, it will happen. Right time, right person and for the best reason.
*********


            Shilla menyipitkan kedua bola matanya kala sinar matahari berkerumun memasuki celah – celah jendela kamar yang baru saja ia buka. Matahari yang sama setiap pagi. Nyata, namun semu.
            Dengan kaki menyeret, ia berjalan pelan menuju tempat tidurnya. Di dudukkannya tubuh itu pelan, lantas ia menghembuskan nafas cepat.
“Sampai kapan aku terjebak di sini?” batinnya.

            Shilla segera melangkahkan kakinya keluar kamar kala samar – samar terdengar suara ketukan pintu. Ia tersenyum kecil saat mengetahui siapa yang telah menunggu di balik pintu cokelat itu.
“Hai Shilla. Sudah siap?” Gadis bergaun merah-biru bertanya ramah.
“Masuklah dulu, Putih Salju. Ajak saja mereka bertujuh sekalian” Shilla mendudukkan dirinya pada kursi kayu di ruang tamunya, setelah sebelumnya menunjuk tujuh orang bertubuh pendek yang berdiri di belakang Putih Salju.
“Kalian ke hutan duluan ya..” Kata Putih Salju ramah ke pada gerombolah kurcaci. Dengan teratur, para kurcaci pergi meninggalkan Shilla dan Putih Salju yang kini duduk terdiam di ruang tamu. Setelah hening cukup lama, akhirnya Shilla membuka suara.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak bertanya tentang apa masalahku?”
“Untuk apa? Aku yakin kau akan bercerita padaku jika kau mau” Putih Salju tersenyum.

            Shilla mengalihkan pandangannya kearah pintu rumah yang masih terbuka. Diperhatikannya pohon – pohon rindang dan bunga – bunga indah yang ada di luar sana. Semuanya indah, namun entah mengapa terasa tak begitu istimewa.

“Kadang memang mimpi itu indah. Namun, bukankah sesuatu yang nyata akan lebih indah? Kau hanya perlu menunggu untuk membuktikannya”
“Tapi aku tak percaya. Aku yakin kebahagiaan hanya ada pada dunia dongeng” jawab Shilla. Masih dengan menyaksikan pemandangan di luar sana.
“Dan karena keyakinanmu yang terlalu maya itulah kau akhirnya terdampar di dunia dongeng dan tak tahu cara untuk pulang. Iya kan?”
*******

            Gemericik air membahana. Menyisir setiap inci dari rongga telinganya. Sunyi… Hanya nuansa itu yang ia dapat di sini. Setiap hari ia hanya menghabiskan waktu di sungai ini untuk menenangkan diri. Berharap pikirannya dapat lebih bekerja dengan jernih untuk menemukan jalan ia pulang.

Akhirnya kumenemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya kumenemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh

            Shilla menghentikan gerakan kakinya yang sedari tadi menghantam – hantam pelan air sungai yang mengalir tenang. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara.

Kuberharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku

            Matanya menyipit kala menemukan sesosok pria yang tengah mendudukkan diri dibawah sebuah pohon apel, tak jauh dari tempatnya berada. Disampingnya ada seekor kuda putih yang terikat tali pada batang pohon tersebut.

Jika nanti kusanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau disampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

            Ia segera berdiri dan berlari menemui pria itu. Tampilannya bukan seperti rakyat biasa. Ia lebih nampak seperti seorang pangeran.
“Apa ini jawabannya?” batinnya.

“Hei, kau! Suaramu bagus sekali. Lagunya juga indah” puji Shilla seShilla tersenyum.
“Terima kasih, Shilla” Balas pria itu.
“Kau tahu namaku?” Tanya Shilla takjub. Bagaimana mungkin pria yang mirip pangeran itu mengetahui namanya, sementara mereka belum saling kenal?”
“Kemarilah” ujar Sang pria sambil menepuk tempat kosong disampingnya. Shilla menurut. Kini, ia telah duduk disamping pria itu.
“Ceritakan, bagaimana kau tahu namaku?” Tanya Shilla tak sabar.

            Pria itu hanya tersenyum. Ia memandang kosong kedepan.

“Bukankah aku alasan kau terjebak di dunia dongeng seperti ini? Bagaimana rasanya? Apa kau bahagia di sini?” Tanyanya, masih dengan menatap ke depan. Shilla hanya diam dan menunduk.
           
            Memang benar, entah bagaimana caranya ia bisa berada di negeri dongeng. Yang ia tahu, saat ia terbangun di suatu pagi, ia telah berada di sebuah kamar tidur yang tampak asing baginya. Dan ternyata, itulah pagi dimana ia telah terjebak di dunia khayalan ini. Mungkin benar, semuanya terjadi karena ia terlalu percaya bahwa pangeran berkuda putih itu ada dan dunia dongeng itu indah. Mungkin juga, karena keinginannya untuk mencicipi sedikit dari keajaiban yang ada pada dunia khayalan itu.

“Jadi, kau memang hanya ada pada cerita imajinasi saja? Dongeng? Kau tak ada di dunia nyata?” tanya Shilla seraya menatap pria itu lekat.
“Kata siapa?” pria itu tersenyum ramah.
“Aku ada di dunia nyata. Aku tak hidup di dunia dongeng, Shilla. Akulah pangeranmu. Aku ada untukmu. Aku sedang dalam perjalanan untuk menjamah hidupku. Yang harus kau lakukan hanyalah menungguku. Aku pangeranmu, meski aku tak berwujud pangeran dengan kuda putihku. Bangunlah dari mimpimu. Hanya denga cara itu kau dapat menemuiku” lanjutnya.
“Benarkah?” Shilla tertawa riang. Jadi, keyakinannya selama ini tidak salah.
“Tapi bagaimana caranya?” ia bertanya ragu.
“Kau hanya perlu yakin, bahwa mimpi tak selamanya akan terasa indah di dunia mimpi. Kau harus berani melepas segala mimpimu yang terlalu semu. Maka, kau akan tahu, ada banyak hal indah yang dapat kau lihat tanpa perlu terus memimpikannya. Namun, melihatnya secara nyata. Benar – benar merasakannya”
“Aku mengerti” Shilla tersenyum samar.
********

            Shilla menggeliat pelan sambil mengerjap – kerjapkan matanya kala ia mearsakan ada hawa hangat yang menerpa tubuhnya. Ada ribuan cahaya yang menyilaukan pandangannya.
“Bangun Shill! Udah pagi” Sapa sebuah suara yang terdengar begitu lembut.
            Shilla segera membuka matanya dengan wajah tak percaya. Dilihatnya, ada sesosok wanita separuh baya yang tengah duduk di tepi ranjangnya. Diperhatikannya segala penjuru kamar itu. Benar saja, ini adalah ruang kamarnya dan wanita itu adalah Ibunda tercintanya. Itu berarti, ia telah kembali ke dunia nyata dan telah berhasil bebas dari dunia dongeng. Dengan segera, ia bangkit dan memeluk Sang mama.
“Shilla kangen Mama.. Shilla kangen..”
“Shilla, apa yang terjadi padamu? Kamu kenapa?” Tanya Sang mama bingung. Tak menggubris, Shilla terus tersenyum lebar sambil mengeratkan pelukannya pada Sang mama.
******

            Senja merayap menghiasi langit, mengganti terik yang telah lama meraja siang tadi. Hawa sejuk menyebar, membuai setiap jiwa yang menghuni taman kompleks perumahan itu. Lampu – lampu taman mulai dinyalakan, menambah nuansa damai yang tercipta. Begitu menyenangkan bagi Shilla. Sudah lama ia tak merasakan suasana seperti ini.
            Ia berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang ada pada taman itu. Namun, seketika perhatiannya tersita pada suara yang samar – samar mengusik gendang telinganya.

Akhirnya kumenemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya kumenemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Kuberharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti kusanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau disampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

            Hei, bukankah itu lagu yang dinyanyikan oleh pangerannya saat ia masih terjebak di dunia dongeng? Segera dicarinya sumber suara itu. Matanya tertumpu pada sesosok pria yang tengah bersenandung kecil seraya sesekali memotret pemandangan di taman itu. Sesekali pula, pria itu melihat hasil bidikan kameranya sambil tetap menyenandungkan lagu yang sama. Merasa diperhatikan, Sang pria mengalihkan konsentrasinya dari kamera yang sedari tadi ia genggam. Benar saja, ada sesosok wanita yang tengah mematung memperhatikannya, Shilla.

“Kau siapa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sang pria dengan tatapan risih.

            Shilla masih memperhatikan Sang pria dengan wajah tak percaya. Pria itu sama dengan pangerannya. Wajahnya, suaranya, bahkan lagu yang mereka nyanyikan pun sama.

“Hei, kenapa melamun? Ada yang salah denganku?”
“Ah, tidak!” jawab Shilla cepat.
“Aku hanya kagum dengan suaramu. Kau mengingatkanku pada seseorang. Kau tinggal di komplek perumahan ini juga?” lanjutnya.
“Oh, bukan. Aku hanya kebetulan melewati daerah ini. Karena pemandangan di taman ini bagus, maka aku menyempatkan waktu untuk memotretnya. Aku tidak tinggal di sini.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Eh, tunggu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu terasa familiar bagiku.” tanya Sang pria ragu.

“Aku pangeranmu, meski aku tak berwujud pangeran dengan kuda putihku. Bangunlah dari mimpimu. Hanya denga cara itu kau dapat menemuiku”

Shilla tersenyum mengingat perkataan Sang pangeran kala itu. Ia lantas menjawab ringan pertanyaan pria berjaket merah itu. “Tidak, kita belum pernah bertemu sebelumnya.”
“Benarkah? Tapi mengapa aku merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya? Baiklah, perkenalkan. Namaku… Alvin. Alvin Jonathan.”
************
THE END


Imajinasi, mimpi dan harapan yang terpadu menjadi satu. :’)


Komentar