Sang Pelangi (Short Story)


Hanya mendung yang menggelayut, teman sejati gadis itu saat ini. Bulir – bulir bening yang senantiasa terjun dari angkasa tak mampu membasahi jiwa rapuhnya untuk sekedar berteduh., melindungi raganya yang telah sempurna basahnya untuk berlindung dari amuk petir. Gadis itu terus saja berdiri, mematung ditengah taman itu. Bersatu dengan kelam nuansa yang tercipta dari hujan hari ini. Kelam yang penuh dengan aura hitam, sebuah aura yang menggambarkan kisah luka inipun tak mampu menandingi kelam jiwa yang meliputinya. Mendung dari rasa sakit yang senantiasa memayungi setiap langkahnya, menyempurnakan rapuh dari relung – relung hatinya. Tuhan…. betapa menyedihkannya gadis itu.
Gadis itu, Naya, terus saja mencampurkan bola – bola bening yang merembes dari dua mata beningnya untuk menyatu bersama tetes – tets air langit. Ya, ini adalah aktivitas rutin yang selalu dijalaninya. Selalu berlari keluar dari rumahnya kala hujan tiba. Petir dan angin selalu menjadi nada alami yang menghibur bersama lara yang dibawanya. Dia ingat betul sejak kapan menangis bersama hujan menjadi hal yang digemarinya. Tepatnya pada tanggal 25 Mei, tepat dihari ulang tahunnya. Tepat saat Ia menyatakan cinta kepada sahabat kecilnya kala Ia berusia 13 tahun. Pria itu hanya menggeleng dan berkata tidak. Namun tak tahukan pria itu, bahwa hal kecil yang dilakukannya mampu menyayat dan mememarkan hati Naya? Menghancurkan hati itu menjadi kepingan – kepingan kecil dan menorehkan luka menganga yang hingga kini tak mampu Naya obati. Runtuhan hati itu hingga kini tak mampu Naya satukan lagi. Luka itu terus saja terinfeksi setiap Naya menikmati indah sosok pria itu. Luka itu semakin melebar dan mendalam. Bahkan membusuk, dan membuat gadis itu mati rasa pada hati lainnya. Bahkan hingga kini, 4 tahun sejak Ia menyatakan cintanya pada Sang pria, Raka.
Rintik itu mulai berhenti menerjunkan diri. Hanya menyisakan beberapa tetes air yang menyebut diri sebagai gerimis, hal yang dianggap kebanyakan orang sebagai sesuatu yang romantis. Naya mendongakkan kepalanya. Ini adalah bagian yang sangat Ia sukai. Ia sangat gemar melihat pelangi. Baginya, pelangi adalah keajaiban. Pelangi selalu mampu membuat raga itu melukiskan senyum diwajahnya. Simpul senyum sederhana yang bahkan sangat sulit untuk disunggingkannya. Ia berjalan beberapa sentimeter dari tempatnya berdiri selama beberapa jam lalu. Didudukkannya tubuh putih itu perlahan pada sebuah bangku kayu bercat biru muda ditaman itu. Tepat dibawah sebuah pohon yang telah terlihat cukup tua. Ini tempat yang paling cocok untuk menikmati pelangi. Menatap warna – warni ajaib itu adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Tujuh warna sederhana yang selalu mampu menyentuh luka dijiwanya, sedikit mengobatinya dengan campuran – campuran ajaib yang diciptakan Tuhan lewat indah rupanya. Sebuah pelangi.
“Hei, kamu lagi?” Sapa sesosok pria berkulit putih yang tengah mendudukkan diri disampingnya. Pria itu berwajah oriental dan memiliki senyum yang menawan. Senyum yang selalu mampu sedikit melenyapkan sosok seorang Raka dimemori Naya kala Ia dekat dengan pria itu.
“Kamu Dav? Mau ikut lihat pelangi lagi?” David hanya mengangguk kecil seraya tersenyum. Senyum bersahaja yang entah kenapa selalu berhasil menyunggingkan senyum dibibir Naya. Senyum yang bahkan selalu dirindukannya beberapa bulan terakhir ini. Entah mengapa.
David, Pria itu adalah pria yang dikenal Naya 2 bulan lalu. Tepat dikala Naya sedang melakukan hobinya, menangis dibawah hujan. David, pria itu, tiba – tiba saja datang dan memanyungi tubuhnya diringi seulas senyum yang menawan. Senyum yang entah mengapa mampu menyapu hatinya yang sedang bertabur luka dari masa lalunya kala itu.
“Kamu bodoh atau apa sich? Ngapain nangis ditengah hujan kaya gini?” Itu kalimat sapaan pertama yang David ucapkan padanya. Naya tersadar dari lamunannya, tersadar bahwa tanpa disengaja jiwa itu telah terhanyut oleh kekaguman aneh yang terselip dihatinya, kekaguman pada senyum menenangkan yang terlukisan pada wajah pria asing yang tengah berdiri dihadapannya. Dengan sedikit meninggikan nada bicaranya, Naya menepis payung yang kala itu tengah melindungi tubuh mungilnya dari hantaman – hantaman air langit.
“Kamu siapa? Sok akrab! Badan aku ini, ya terserah aku mau ngapain.”
“Iya, aku tahu. Tapi aku juga ngerti kamu hujan – hujan kaya gini bukan karena mau menikmati hujan kan? Tapi karena kamu sedang berusaha untuk menyiksa diri kamu sendiri”
“Menyiksa?” Naya mengeryitkan dahinya. Ia menatap pria berjaket merah itu dengan wajah heran. Apa sebenarnya maksud pria itu berkata demikian?
“Aku ngerti, mungkin kamu bisa menyembunyikan tangis kamu itu dalam linangan air hujan. Tapi, itu hanya bisa menghilangkan sedikit dari sakit yang kamu rasa. Bukan mengobati secara perlahan sakit itu.” David terseyum tipis dan menarik lengan Naya. Entah kenapa gadis itu enggan untuk sekedar meronta. Ia yakin pria ini tak akan menyakitinya.
David menarik lengan Naya hingga tiba didepan sebuah kursi panjang bercat biru muda, kursi yang tengah mereka duduki saat ini. David menghembuskan nafas kecil dan mendudukkan dirinya. Memandang kosong kearah langit yang kini mulai terbebas dari mendung dan hujan yang sempat menyembunyikan indah rupanya. Naya memandang bingung David untuk sekilas. Namun, akhirnya Ia turut mendudukkan dirinya disamping pria itu.
Ya, itu adalah awal mula pertemuan kebetulan mereka. Sebuah kebetulan yang tak pernah mereka ketahui, bahwa kebetulan yang tak disengaja itu ialah sebuah kebetulan yang telah diatur sebegitu sengajanya oleh Tuhan.
“Kamu masih ingat kalimat yang aku katakan saat kita duduk bersama dibangku ini dua bulan lalu?” Tanya David seraya menengok tipis kearah Naya yang temgah menatap langit.
“Iya. Kamu bilang kalau aku tak perlu menangis lagi dibawah hujan. Karena lukaku akan semakin parah saat aku menangis, menangis dibawah hujan hanya akan mengingatkan aku pada Raka. Aku cukup menunggu pelangi datang untuk melukiskan senyum diwajahku. Karena dengan begitu, aku akan belajar untuk bersyukur. Karena pelangi, hanya akan mengingatkanku bahwa harapan pasti ada dalam bentuk keajaiban yang tak pernah kita kira” Jelas Naya sembari tersenyum, masih memfokuskan retinanya untuk mengagumi keindahan angkasa yang mulai memuai bercampur dengan tujuh warna yang melengkapinya.
“Lihat Dav! pelanginya muncul” Naya tertawa riang kearah David sembari menunjuk pelangi yang mulai menghiasi langit siang itu.
“Janji ya Nay, kamu nggak boleh nangis lagi dibawah hujan setelah ini. Tapi, teruslah berharap bahwa hujan akan datang” David masih belum mengalihkan tatapannya pada Naya.
“Kenapa aku harus nunggu hujan, kalau aku nggak boleh menangis bersamanya?” Naya menatap pria yang tengah tersenyum itu dengan wajah bingung. Dahinya berkerut tipis tanda tak mengerti akan maksud Sang pria.
“Karena tanpa hujan, pelangi yang kamu favoritkan itu tidak akan pernah datang” Terang David seraya mengacak sedikit rambut Naya.
“Haha.. iya! Tapi, gimana kalau pelanginya nggak datang?”
“Lihat wajah ganteng aku aja. Senyuman aku kan lebih indah dari pada pelangi?” Celoteh David sambil tertawa kecil kearah Naya yang tengah menggelembungkan pipinya kesal.
“Ih… narsis ah!” Naya tertawa kecil. Sesungguhnya, sejak tawa pertamanya yang telah diciptakan oleh David, Ia telah menganggap sosok itu sebagai Sang Pelangi dalam hidupnya. Sebuah keajaiban yang akan senantiasa dirindukan hadirnya dalam hidup Naya. Hanya keindahan itu yang mampu menghapus segala luka yang pernah menggores dalam dijiwanya, menormalkan kembali sesak yang selalu menghimpit rongga – rongga nafasnya Selama ada David disisnya, Ia akan yakin bahwa segalanya akan baik – baik saja. Karena hidupnya, akan lebih indah dan bertabur keajaiban dengan hadirnya David dalam kisahnya.

Komentar