Sekeping Kisah (CERPEN)
Aku mengerjapkan mata dua kali, mengacak rambut empat kali dan kemudian membanting tubuhku ke tempat tidur. Apa yang ada di otakku kali ini membuatku bingung. Sosok itu selalu saja membuat pikiranku tertuju pada satu nama. Ya, pria yang memiliki mata meneduhkan itu, yang senyumnya membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, pria yang mulai mampu menjadi inspirasi baruku, pria dengan pesona yang tak terjabar kata, pria yang kutemui di depan perpustakaan siang itu.
Pandanganku kemudian beralih pada laptop di meja belajarku. Kuketik beberapa kata disana, namanya. Hah, aku teringat padanya lagi. Ia yang kini telah berbeda, tak seperti dulu. Ia yang kini bahkan tak pernah mau membalas sapaanku. Aku menyesal, kenapa dulu aku mengabaikannya hanya karena pria lain yang suka menarik ulur hatiku, pria yang tak pernah benar-benar ingin memiliku. Dan kini aku menyesal, karena telah melepaskan pria dengan dua bola bening teduhnya, pria yang selalu mampu menghiburku dengan canda khasnya. Pria yang ternyata aku butuhkan hadirnya untuk membuat segalanya selalu baik dan lebih baik dari masa yang pernah ada.
Karena kau baru akan menyadari betapa berartinya seseorang, pada saat ia telah menghilang dari hidupmu.
********
“Apa aku harus mengejarnya?”
“Hei, apa kau gila? Kau ini wanita. Toh di dunia ini pria bukan cuma dia.” Siska menatapku dengan mata yang melebar. Suaranya pun meninggi dengan nada bicara tak percaya. Mungkin ia tak habis pikir dengan jalan pikiranku. Sebenarnya aku pun begitu.
“Tapi, kau tahu? Bahkan kini ia tak pernah menjawab sapaanku. Aku hanya merasa ia mulai menghindariku”
“Apa kau mulai menyukainya?”
“Entahlah. Aku sudah menyukainya sejak awal aku bertemu dengannya. Bukan cinta, hanya kekaguman kecil yang tak aku mengerti. Hanya tatapan tak sengajaku dengannya. Awalnya, aku hanya menyukai caranya memandangku. Tapi kini, aku merasa ada yang kurang dari hariku semenjak….” Aku menggantung perkataanku, tak tahu harus melanjutkannya dengan perkataan apa.
“Dia?” Siska menatapku dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Aku hanya mengangkat dua pundakku dan menjawab pendek, “mungkin”.
“Kau tahu? Kadang, kau memang memiliki hati seseorang, tapi kau tidak memiliki jalan hidupnya. Dan kau tak dapat merubah hal itu. Mungkin, begitu pula yang terjadi antara kau dengan dia.”
“Dan mungkin, karena kesalahanku di masa lalu. Karena aku tak segera membuka pintu hatiku untuknya. Hingga pada akhirnya, dia menghilang dari hidupku.” jawabku lirih.
******
Aku membolak-balikkan selembar surat yang ada ditanganku. Kuamati lagi tulisan yang ada di amplop biru itu. Aku lantas tersenyum mengingat isi dari amplop itu, sekeping DVD. Ya, semalam aku sengaja tidur lebih malam hanya untuk menyiapkan kado kecil itu. Aku lantas mengalihkan pandanganku pada segerombolan tubuh yang mulai berdesakan untuk keluar dari ruangan yang bertuliskan ‘205’.
Kuamati mereka satu persatu lantas aku segera melambaikan tanganku pada pria berjaket biru yang keluar paling akhir.
“Satya!” panggilku dengan senyum yang tak juga sirna. Pria itu hanya diam dan memandangku datar.
“Ini” aku mengangsurkan amplop itu padanya. “Spesial untukmu. Semoga kau menyukainya.” tambahku. Aku lantas segera berlari meninggalkannya meskipun aku tahu ia tengah membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu. Aku hanya berharap, ia akan tahu bagaimana perasanku padanya kini.
********
Pria itu mendudukkan diri di sofa. Lantas diamatinya sejenak tulisan tangan yang ada pada amplop itu.
Untuk seseorang dengan dua bola mata meneduhkannya. J
Ia lantas mengembuskan nafas kecil. Ada begitu banyak pertanyaan yang berjejal di otaknya. Sebenarnya apa yang ada di fikiran gadis itu tentangnya? Satya membulatkan matanya kala menemukan sekeping DVD yang ada disana. Segera dikeluarkannya laptop yang ada didalam tas ranselnya. Lantas ia segera memutar DVD itu.
Gambar pertama yang disaksikannya adalah senyuman gadis itu dan sapaan yang selalu sama. Sapaan yang selalu menghangatkan hatinya, begitu menyenangkan. Lantas, gadis yang ada di video itu mulai melantunkan sebuah lagu.
This is for you…
My angel
How'd you get to be so fly,
How'd you get to shine so bright, boy
How'd you get to look like that,
Heaven don't you call him back, yeah
Halo Halo, I'm not sayin' hi,
Baby there's a ring above your head,
And it shines so bright in the sunlight, in the sunlight
Ayo Ayo, this is like a dream
Every bit of you it makes me weak,
How did I get here, in the sunlight, in the sun
Here we are, looking at the stars
I can hear, the beating of your heart,
I could listen to this song forever
You're the breeze, cruising down my coast,
You're the jam, baby I'm the toast,
It's so sweet when we're together
And if I ruled the world I'd name an island for ya,
You could tell all your boys I named an island for you,
I must be in Heaven
Cause I'm looking at an Angel
Whose staring back at me
His eyes so heavenly
I must be in heaven
How'd you get to be so fly,
How'd you get to shine so bright, boy
How'd you get to look like that,
Heaven don't you call him back, yeah
Halo Halo, I'm not sayin' hi,
Baby there's a ring above your head,
And it shines so bright in the sunlight, in the sunlight
Ayo Ayo, this is like a dream
Every bit of you it makes me weak,
How did I get here, in the sunlight, in the sun
Here we are, looking at the stars
I can hear, the beating of your heart,
I could listen to this song forever
You're the breeze, cruising down my coast,
You're the jam, baby I'm the toast,
It's so sweet when we're together
And if I ruled the world I'd name an island for ya,
You could tell all your boys I named an island for you,
I must be in Heaven
Cause I'm looking at an Angel
Whose staring back at me
His eyes so heavenly
I must be in heaven
(Cody Simpson – Angel)
Semoga kau menyukainya. Kau tahu? Mungkin, ini hanya sesuatu yang mampu aku lakukan untuk menggambarkanmu di mataku.
Satya merasa ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Perasaan menyenangkan yang ia sendiri tak mampu menggambarkanya. Gadis ini benar-benar selalu penuh dengan kejutan. Kejutan yang manis.
Kau tahu? Aku mencintaimu. Mencoba jauh darimu benar-benar menyiksaku. Mulai saat ini, aku akan memulai segalanya lagi. Mengajakmu pada sebuah lembaran baru. Hanya tentang kau dan aku, batinnya.
Komentar
Posting Komentar