A Little Talk About Life Choice (Short Story)
“Mint choco. Kamu masih
menyukai minuman yang sama.” ujar pria yang duduk di hadapanku sambil tersenyum
kecil ketika melihat minuman yang baru saja diletakkan oleh seorang waiter
di atas meja kami.
“Yah, mau bagaimana lagi. Rasanya
sangat enak. Hahaha.” aku tertawa kecil.
“Dan kamu masih belum tahu minuman
kesukaanku.” ucap pria itu ringan sambil tersenyum lembut ke arahku. Aku tidak
tahu harus menjawab apa.
“Aku tidak menyangka kita bisa bertemu
lagi seperti ini, setelah bertahun-tahun.” Pria itu membuka topik obrolan. Ia
mengenakan kemeja lengan Panjang berwarna baby blue, serasi dengan
rambut pendeknya yang tertata rapi. Wajahnya belum banyak berubah, masih sama
seperti terakhir kali aku melihatnya ketika kami duduk di bangku SMA. Bedanya,
kini ia tampak lebih dewasa. Tentu saja, kami sudah memasuki usia kepala tiga
saat ini. Waktu benar-benar telah berlalu…
“Bagaimana kabarmu?” suaranya membuyarkan
lamunanku.
Aku buru-buru menjawab “Ya, seperti
keajaiban, aku dan kamu bisa bertemu lagi secara tak sengaja di kota ini.”.
Aku kembali mengingat kejadian
kemarin saat aku dan dia tidak sengaja bertemu di sebuah acara talk show
penulis favorit kami yang baru saja merilis novel baru. Kami lantas sepakat
untuk bertemu kembali hari ini. “Kabarku baik.” lanjutku sambil tersenyum.
“Jangan hapus lagi nomor kontakku di
handphone-mu.”pria itu berucap sambil tertawa.
Aku turut tertawa sembali mengingat
kejadian kemarin saat aku mengajaknya bertukar nomor telepon. Ternyata, dia
masih menyimpan nomor kontakku di handphone-nya hingga saat ini. Dulu,
saat aku sedang marah padanya, aku menghapus nomor kontaknya di handphone-ku
dan juga kembali memblokir akun sosial medianya. Sejak saat itu, aku dan dia tidak
saling berhubungan lagi. Sejujurnya aku sedikit menyesali keputusanku untuk
menghapus nomor kontaknya di handphone-ku. Jika saja aku tak
melakukannya, mungkin kisah hidup kami saat ini akan sangat berbeda, baik masa
depannya maupun masa depanku. Mungkin, aku tak perlu terjebak dalam hubungan traumatis
penuh penyesalan yang saat ini kujalani…
“Apa kamu bahagia?” tanyanya.
Bahagia? Pertanyaan yang sulit di
jawab. Sudah lama aku tak pernah benar-benar merasa bahagia. Apalagi dua tahun
terakhir ini, seseorang yang kucintai mengubah hidupku menjadi neraka. Mempermainkan
mentalku dengan bahagia. Dia benar-benar berbeda dengan seseorang yang sedang
duduk di hadapnku sekarang. Tidak pernah, tidak pernah ada seseorang yang dapat
menyayangiku melebihi pria ini menyayangiku dulu…. seseorang yang bisa
membuatku merasa spesial dan sangat dicintai…. Sepertinya, tidak pernah ada
seorang pun yang dapat mencintaiku melebihi dia mencintaiku… dulu… Karena
itulah, setelah mengalami kisah cinta yang menyakitkan selama dua tahun
terakhir ini di mana perasaanku selalu diabaikan, aku baru menyadari bahwa
mungkin di dunia ini, tidak ada yang dapat mencintaiku sedalam perasaannya yang
dulu pernah ada untukku….
“Tidak. Aku tidak bahagia. Aku lelah.”
jawabku akhirnya.
“Apa kamu punya masalah? Kamu dapat
berbagi denganku. Jangan sedih sendirian.” ucapnya khawatir.
“Kamu masih sama. Kamu selalu peduli
pada perasaanku.” jawabku sambil tersenyum. Aku lantas mendesah dan
melanjutkan. “Aku bertemu dengan seseorang yang membuatku menyesali masa lalu.
Selama menyukainya, yang ada di pikiranku hanyalah aku ingin memutar waktu dan
menghindari takdirku agar tidak bertemu dengannya lagi.” Aku terdiam beberapa
lama, begitupun dengan pria di hadapanku. Dia menungguku untuk melanjutkan
cerita dengan sabar.
“Dia bilang dia mencintaiku, tapi
dia tidak pernah sekalipun menghargai perasaanku. Dia selalu melakukan segala
hal yang membuatku terluka. Dengan sengaja. Lalu, dia akan meminta maaf, namun
kembali melakukannya lagi. Seolah-olah maaf dapat menghapus semua rasa sakit
hatiku. Sejujurnya, selama menyukainya, yang kurasakan hanyalah rasa lelah dan
perasaan direndahkan, seolah-olah aku tak punya arti apapun di hidupnya. Yang
dia pedulikan hanyalah hidupnya sendiri. Di saat seperti itu, aku terkadang
teringat padamu. Dia brengsek. Bagaimana aku bisa terjebak dengan pria brengsek
sepertinya? Dia sangat berbeda denganmu yang tidak pernah menyakiti perasaanku.”
Aku lalu melanjutkan “Dulu, aku
masih sangat muda. Aku tidak sabaran. Aku minta maaf.”
Pria itu tersenyum tanpa berkata
apapun.
“Sekarang kita sudah dewasa. Aku
senang kamu terlihat baik-baik saja. Kuharap, kita berdua bisa benar-benar
menemukan kebahagiaan yang kita inginkan suatu hari nanti.” ucapku.
“Ya. Mari kita bahagia. Aku
benar-benar ingin kamu bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.” jawabnya.
Kami berdua tersenyum.
Komentar
Posting Komentar