Postingan

Sekeping Kisah (CERPEN)

Aku mengerjapkan mata dua kali, mengacak rambut empat kali dan kemudian membanting tubuhku ke tempat tidur. Apa yang ada di otakku kali ini membuatku bingung. Sosok itu selalu saja membuat pikiranku tertuju pada satu nama. Ya, pria yang memiliki mata meneduhkan itu, yang senyumnya membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, pria yang mulai mampu menjadi inspirasi baruku, pria dengan pesona yang tak terjabar kata, pria yang kutemui di depan perpustakaan siang itu.             Pandanganku kemudian beralih pada laptop di meja belajarku. Kuketik beberapa kata disana, namanya. Hah, aku teringat padanya lagi. Ia yang kini telah berbeda, tak seperti dulu. Ia yang kini bahkan tak pernah mau membalas sapaanku. Aku menyesal, kenapa dulu aku mengabaikannya hanya karena pria lain yang suka menarik ulur hatiku, pria yang tak pernah benar-benar ingin memiliku. Dan kini aku menyesal, karena telah melepaskan pria dengan dua bola ...

Bumi dan Langit

Bumi Pijakan antara harap yang takkan bertemu asa Langit Ia adalah asa yang takkan mampu merengkuh harap, bumi… Bumi dan langit Iakah aku dan kamu? Hanya saling memiliki hati Tak dapat menyentuh raga Tak dapat melangkah dalam setapak yang sama Tak kan pernah Selamanya…. ************** Malang, 20 Desember 2011

You

Gambar

Rasa

Hei, lihatlah! Siapa yang tak terpesona oleh rupa seindah itu? Kau begitu membuatku bisu Langkahku tak tergerak meski waktu tak menghentikan detak Senyummu menyihirku Selalu ingin tersenyum kala mengingat rona tampanmu Dulu, senyummu tak istimewa Dulu, hadirmu biasa saja Dulu, kau tak terselip dalam rongga kosong tanpa rasa Kini, kau di sana Kini, kau tertulis dalam lembar asa Kini, ruang itu terisi Memori akan kamu Memori akan senyummu Memori akan tingkahmu Tahukah? Aku mencintaimu Waktu berdetak dengan harap bola beningmu dapat terpantul dalam retina mataku Selalu berharap dapat merekam hadirmu Tahukah? Aku menyukaimu Lebih dari itu… Aku mulai mencintaimu Malang, 12 Desember 2011             Senang dapat melihatmu Begitu bahagia dapat merekam indahmu, sekali lagi Ingin terus begini Hadirmu adalah senyumku Pencipta rona merah jambu

Seperti Ini Rasanya

Membatu Kala kedalaman bening itu menyapaku Lihatlah… kau di sana Membuatku buta Bergetar Terpekur akan satu rasa Rasa apa? Kagum? Cinta? Pesona Lihatlah… kau membuatku mencari itu apa Rasa yang samar dan mulai merubah rupa Terkesima Tenggelam dalam bening hitam sinar matamu yang dalam Membisukanku untuk mengeja akan rasa yang bukan bayang Aku sempat lupa bagaimana rasanya jatuh cinta Dan sekarang aku mengingatnya Saat kau tersenyum sebegitu indahnya Saat kau tersenyum padaku seperti itu adanya Ya.. seperti itu Tak tahu dari arah mana ia mengetuk Tak tahu dari seluk mana ia menyusup Aku menyadarinya Ya.. begini.. Seperti ini Seperti ini rasanya Jatuh cinta.. Malang, 28 November 2011

Dan Akhirnya...

Cinta tumbuh dari kebiasaan yang rutin dan biasa.             Jadi, bagaimana kalau akhirnya aku mencintaimu? Mencintaimu karena terlalu terbiasa melihatmu, menghirup aroma tubuhmu, mendengarkan suaramu, hingga bahkan aku menjadi hafal akan segala sesuatu tentangmu. Hidup adalah seni dalam memilih.             Dan bagaimana jika hatiku mengetuk palunya untuk memantenkan sebuah nama. Ia hanya akan menjaga segala penjuru ruang hingga sela terkecil yang ia punya. Mengisinya hanya dengan satu nama. Namamu. Cinta yang akhirnya membuat hidupmu tak lagi sama.             Kini, banyak hal yang tak lagi sama. Hatiku tak lagi sama. Namamu memenuhi semua bilik jiwa dan mengisinya dengan cinta. Sungguh baik takdir memertemukan kita. Aku ingin terus begini, menggenggam setiap sela jemarimu dan kamu selalu duduk di sampingku. Dan ak...

Kesia-siaan

Kau tahu? sekarang aku sedang memikirkanmu Ah, aku merindukanmu Ayo lah, tertawa… Aku ingin mendengar suaramu Ayo lah, tersenyum… Aku ingin semakin tenggelam dalam cintamu Ayo lah, bernyanyi… Aku ingin mendengar kau menyanyikan lagu cinta untukku Aku sungguh ingin memelukmu Jika begitu, aku tak akan mau melepaskanmu Aku sungguh ingin memelukmu Aku ingin kau terus disini Kau benar-benar membuatku gila karena rindu Aku sungguh ingin memelukmu Aku ingin kau menenangkan aku dalam rengkuhanmu Aku sungguh ingin kau berada di sini Kau benar-benar membuatku gila karena mencintaimu Kenapa kau harus membuatku jatuh cinta jika akhirnya begini? Bukankah sebuah kesia-siaan? Jatuh cinta, tapi tak akan pernah bisa bersama…. Sungguh, aku ingin melupakanmu saja…. Mencintaimu memang kesia-siaan. Aku tahu aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita. Mencintaimu sama saja menyakiti hatiku sendiri. Kau benar-benar harus mengajariku bagaimana caranya berhenti. Malang, 27 Oktober 2011