Postingan

Sepucuk Surat Untuknya

Wajahnya, ia, entah sejak kapan dan mengapa. Ia, menjadi tokoh utama, menghiasi setiap mimpi dalam malamku. Ini benar-benar cinta? Aku mabuk cinta? Karena dia.. Segala yang ada padanya memang membuatku memuja. Tak sanggup berhenti. Ia malaikat tak bersayap yang membuatku jatuh cinta. Mungkin, karena itulah aku tak mau berhenti memujanya. Hingga keindahannya, selalu terselip dalam mimpiku. Bahkan segala yang ada padanya tak bercela. Ia terlihat indah. Dia, begitu memukauku. Keindahan macam apa ia? Kenapa begitu menjeratku? Bahkan, ia tak perlu memiliki keajaiban untuk membuatku terpesona. Tanpa keajaiban pun, ia sudah terasa begitu ajaib untukku. Ia, adalah sebongkah keajaiban. Indah dan menawan. Kau tak perlu menjadi Pelangi, tak perlu menjadi Matahari, tak perlu menjadi Pangeran, dan semua sosok impian yang ada pada khayalku. Kau cukup menjadi dirimu. Dan aku akan terus berada di sini untuk mengagumimu. Mencintaimu. Aku mencintaimu karena kamu adalah kamu. Menyusup di antara celah-...

Jalan Menemukanmu

            If something’s meant to happen, it will happen. Right time, right person and for the best reason. *********             Shilla menyipitkan kedua bola matanya kala sinar matahari berkerumun memasuki celah – celah jendela kamar yang baru saja ia buka. Matahari yang sama setiap pagi. Nyata, namun semu.             Dengan kaki menyeret, ia berjalan pelan menuju tempat tidurnya. Di dudukkannya tubuh itu pelan, lantas ia menghembuskan nafas cepat. “Sampai kapan aku terjebak di sini?” batinnya.             Shilla segera melangkahkan kakinya keluar kamar kala samar – samar terdengar suara ketukan pintu. Ia tersenyum kecil saat mengetahui siapa yang telah menunggu di balik pintu cokelat itu. “Hai Shilla. Sudah siap?” Gadis bergaun merah-biru bertanya ramah. “Masuk...

Ia Bernama TANPAMU

Ada sesuatu yang hilang Aku tahu ada yang kosong Ruang yang selalu riuh akan satu nama itu kini menghening Tanpa suara Tanpa nada Tanpa gemerisik hujan yang selalu jatuh menghujam tanah Sepi, nama itu yang aku tahu Kesepian ini bernama tanpamu Ada yang hilang Ada yang tak sama Semua terasa hampa Adakah kehampaan itu pula beratas namakan tanpamu? Ada yang hilang, sesuatu yang penting Adakah kehilangan itu bernama tanpamu? Apakah sepi ini ada karena aku tak sanggup melepasmu? Apakah sepi ini ada karena rindu itu terus menjelma menjadi cinta yang semakin dalam merasuk di dasar sana? dihatiku? Tahukah? Aku masih merindukanmu Dan kesepian ini terasa perih, kau tahu? Segala hal yang kusebut tanpamu adalah cinta yang berusaha membisu untuk mengatakan…. ”Aku merindukanmu” ”Aku mencintaimu” ”Aku membutuhkanmu” Dan kesepiain ini memang benar Ia bernama TANPAMU 20 juni 2011, 19:04

Kau Tak Pernah Tahu

Kau tak pernah tahu Tak akan pernah tahu Melupakanmu terasa menghimpit rongga - rongga dadaku Itu sulit, teramat sulit, kau tahu? Aku disini, harus berpura - pura tak peduli Namun nyatanya, saat aku melihatmu, ada buncahan rindu yang selalu siap untuk tertumpah setiap waktu Disaat aku menatapmu, ada cinta yang kembali meraja Mencintaimu telah menjadi aktivitasku, tak dapat berhenti Kau tahu? Seberusaha apapun aku membutakan mataku untuk tak melihatmu, kau tetap terlihat dan tak dapat hilang Mataku berusaha buta, tapi hatiku tak dapat berpura - pura Melupakanmu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan Karena kau tak pernah tahu Tak akan pernah tahu hatiku 22 Juni 2011, 09:14

Hey.. Kamu

Jadi, tema tulisanku malam ini adalah tentang belahan jiwaku. Sosok yang telah dituliskan takdir untuk memilikiku suatu saat nanti. Seorang pria yang tercipta khusus untukku. Sebuah nama yang akan terpahat abadi dihatiku. Seseorang yang cintanya akan terbingkai dan terjaga indah di relungku. Siapapun kamu, aku percaya bahwa aku akan sangat mencintaimu. Hey… kamu. Siapapun kamu, membayangkan akan bertemu kamu saja sudah membuatku bahagia. Apalagi nanti, saat takdir mempertemukan kita dan akhirnya kita bisa saling memiliki satu sama lainnya. Hidupku pasti akan terasa sempurna. Hey kamu… Siapapun kamu, aku mencintaimu, membutuhkan kamu, merindukan kamu. Aku yakin, saat takdir mrmpertemukan kita nanti, rasaku akan sedalam itu padamu. Akan tercipta ribuan puisi cinta yang tertulis untukmu. Khusus dariku. Hey kamu… Nanti, saat kita sudah berpacaran, kau akan memanggiku apa? Aku bakal buat panggilan sayang apa ya ke kamu? Aku tak sabar ingin bertemu kamu. Aku tak sab...

Malam dan Kamu

Dan dirimu laksana terang Cahaya kilauan yang melebihi temaram malam Terang.. Menenangkan.. Tak pernah indahmu tersapu kabut hitam penghalang bulan Bintang itu jauh... jauh dari indahmu Kau adalah keindahan yang tak terjamah Tak terurai akan jutaan kata indah Kau adalah cahaya malam pelengkap sepi Menjamah jiwa dengan senandung sunyi Penggenap kerinduan yang tersimpan dalam hening pekat Malam.. hitam.. dan kau membuatnya tampak keemasan Cahayamu ajaib, selalu berada disana.. penerang mimpi yang penuh mimpi Mimpi akan kisah yang tak ingin terhenti Cahaya dengan simpul senyum tujuh warna Pelangi malam hari yang mematri jiwa Pelangi dengan simpul senyum tujuh warna keindahan pesona Dan aku ingin terus memilikinya 3 Juni 2011, 15:01

Terpatri

Disana tertindih ribuan lembar suram Menatapnya dengan lirih, miris, tak terbaca oleh hayal Tertutupi akan raga, nyawa tak berdaya Meresapinya dengan diam, memuai asa Ingin itu ada kala masa lalu belum menjumpa, belum merasa Asa datang kembali, membayang jalan, harap kini menjadi nyata Mengucap, kala buram itu menjernih, memutih tanpa bercak hitam Mengungkap dari hati, 3 kata ajaib, tiga kata penantian Hati menari, bernyanyi, bagai mimpi Hati ingin merengkuh hati Raga ingin menggenggam jemari raga, dekat namun tersekat Karena raga mungkin masih sendiri, namun hati telah terpatri Raga masih sendiri, namun nyawa telah mencinta meski abu – abu yang terwarna, keruh dan tak pasti untuk diurai cerita pada raga yang kini mengungkap padaku Hati telah terpatri hati lain, bukan hati yang kini kembali menebar asa Hati sulit menjelaskan tentang kesendirian yang terikat Terikat namun sendiri Sendiri namun terikat Asa itu mendekat dan kian mendekat Namun bagima...